Archive for November 2007




“Ruang Hujan”–> cerpen aku di kumcer MASTERPIECE…

Bingung mau nulis apa…

Oh, iya!! Ini ada cerpen buatan aku,, waktu itu kan ada tugas bikin cerpen, nah, aku abis nonton film rame… makanya aku nulis cerita kaya gini…

Ini cerita FIKTIF…

Kalo ada kesamaan nama, jangan diwaro…

OKEEEH!!!

Selamat menikmati!!!

RUANG HUJAN

(Terinspirasi dari film A Moment to Remember… tapi ngga berarti aku nyontek 100%!! Lagyan ceritanya beda kog!!)

Bandung, 13 Juli ketika kisah ini dimulai. Dia datang, membawa ketenangan dan kedewasaannya saat aku baru saja memulai pencarian jati diri. Senyumnya di balik tirai-tirai hujan tidak akan pernah bisa aku lupakan. Itulah, saat pertama kali kau bertemu dengannya di ruang hujan…

ZZZRRR…!!!

Lapangan pun mulai basah. Kontan, anak-anak yang tadinya riuh memantulkan bola merah bata ukuran sedang pun mulai menepi. Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam pun berlalu. Tersisalah seorang pemuda berumur 16 tahun yang tetap bergumul dengan bola itu. Pemuda itu berbaring di tengah lapangan dan menyadari bahwa dia tinggal sendirian di tempat itu.

Walaupun dia tidak benar-benar sendiri…

15 menit kemudain, pemuda itu menepi. Ia meraih handuk biru yang tergantung di sebelah tasnya dan mulai mengeringkan rambutnya. Antara sadar dan tidak, dia melihat seorang perempuan sedang berdiri di bawah pohon di seberang lapangan. Ia memfokuskan pandangannya pada perempuan itu. Seakan sadar sedang diawasi, si perempuan yang tadinya hanya bersandar sambil menutup matanya itu menoleh ke arah si pemuda dan tersenyum.

ring-ring… it’s you again, heart…

Tiba-tiba, handphone si pemuda berbunyi. Seakan refleks, si pemuda langsung menyambar handphone itu dan membaca pesan singkat yang baru diterimanya secepat kilat. Saat ia melihat ke arah pohon lagi, si perempuan sudah menghilang…

Keesokan harinya, si pemuda kembali berlatih bersama teman-temannya. Cerah sesuai harapan. 3 jam berlalu ketika air mulai menetes-netes dari awan mendung. Tentu saja, latihan langsung dibubarkan. Si pemuda—lagi-lagi—tetap berlatih sendirian, ketika ia sadar perempuan yang kemarin dilihatnya sedang duduk di bawah pohon itu lagi. Ia sedang memperhatikan si pemuda sambil tersenyum. Awalnya si pemuda acuh, tetapi pada akhirnya dia penasaran dan mulai mendekatinya.

Mereka saling tatap selama 5 detik sebelum si perempuan bertanya, ” Kenapa berhenti?”

”Kenapa lo di sini?” jawab si pemuda.

”Hm…Karena aku suka. Apa alesan itu cukup?”

”Ngga ada alesan lain?”

”Hm.. ada. Ini tempat istimewa buatku. Hampir setiap hari aku ke sini, kok.”

Si pemuda terdiam membisu karena keheranan. Semua terdiam. Hanya ada suara hujan.

” Indah…kan?” kata si perempuan, memecah kesunyian.

” Hhah? Apa yang indah?”

”Suara hujan… Tempat ini istimewa… ini satu-satunya tempat yang bisa basah karena hujan di bulan Juli”

” Lo ngomong apaan, sih? Kenapa? Lo tau dari mana? ”

Perempuan itu tertawa kecil sebelum menjawab,” Kamu bener-bener percaya?”

Si pemuda Hanya diam.

” Hm…instingku bilang begitu… soal alesan… mungkin karena aku suka hujan?”

”Lo aneh banget…” jawab si pemuda menanggapi. Si perempuan hanya tersenyum.

”Aku harus pergi. Hujannya sebentar lagi reda.”

”Tunggu dulu. Nama gw Dika! Lo siapa?”

Si perempuan hanya berbalik, tersenyum, lalu menjawab,”Nanti kamu juga tahu!”

Kemudian dia pergi…

Minggu pagi. Saat aku sedang berlari pagi, dia sedang duduk di bawah pohon itu lagi. Kali ini dia membawa MP3 player yang terpasang di telinganya. Aku teringat kejadian kemarin, saat acara penerimaan murid baru. Aku melihat perempuan itu berbaris di barisan anak kelas satu. Sungguh, aku tidak menyangka dia baru kelas 1 SMA. Cara bicaranya sangat dewasa. Dia memiliki aura yang berbeda dengan anak-anak ingusan kelas satu lainnya. Terbukti, temanku sesama panitia berpendapat sama. Kesimpulannya, dia terlalu berbeda. Perlahan, kudekati dia dan kutepuk bahunya. Maksudnya, untuk mengagetkan.

”Anak kelas satu! Kenapa pagi-pagi udah ada di sini? Kerjain tugasnya sana!”

Tidak sesuai harapan, reaksinya biasa saja.

”Apa ada di UUD 1945 aturan bahwa murid kelas satu SMA dilarang nikmatin waktu sendiri?”

”Terserah lo, deh. Boleh gw ikut duduk?”

”Apa aku punya hak buat ngelarang?” Mendengar jawabannya, aku hanya bisa tersenyum, walaupun dia tidak melihatnya. Jawabannya benar-benar khas.

”Hoi, Fatha Lassiendri Rahayu. Lo pernah ngga naik kelas, yah? Kok masih kelas satu, sih?” mendengar pertanyaanku, dia malah tertawa kecil.

”Salah besar. Aku ikut aksel, malahan.” Seketika, aku sadar semua hipotesis temanku salah.

”Aksel? Emang umur lo berapa, sih?”

”Ngga sopan. Nanya umur cewek.” jawabnya tanpa memandangku atau membuka matanya.

”Sori. Ngga maksud yg aneh-aneh. Udah, ya. Gw buru-buru nih,” kataku sambil bangkit. Saat berjalan lima langkah, dia tiba-tba berkata, ”Tiga belas.” Kontan kuhentikan langkahku dan menolehkan kepalaku ke arahnya.

”Umurku tiga belas. Apa itu cukup buat ngejawab rasa ingin tahu kamu?” tambahnya.

13 Agustus. Tidak terasa sudah sebulan sejak pertama kali aku melihatnya. Selama sebulan ini, aku sering bertemu dengannya di bawah pohon tempat kami pertama bertemu. Saat ini, aku menyadari dua hal. Yang pertama, dia sangat pelupa. Yang kedua, dia sangat suka menggambar.

”Tau, ngga? Pertama kali gw ngeliat lo, kirain lo hantu. Auranya mistis, sih.” kataku di suatu sore, memecah keheningan di tengah gerimis hujan.

Dia hanya diam dan tersenyum. Aku tidak bisa menyelami pikirannya. Jadi aku mulai memain-mainkan bola basketku lagi. Lalu, dia mengeluarkan sketch book yang setiap hari dibawanya.

”Coba pegang bola basketnya kaya gini,” katanya sambil mengatur-atur posisi dudukku. ”Jangan bergerak dulu, yah,” tambahnya. Aku hanya bisa menurut dan memandangi wajah seriusnya saat menggambar.

” Kenapa lo sering banget ngelukis, sih? Bawa sketch book ke mana-mana. Apa ngga berat?”

”Cuma mau ngeabadiin momen-momen yang aku anggep penting. Apa salah?”

”Tapi… kenapa ngga difoto pake kamera aja? Kan lebih cepet… hasilnya juga lebih akurat… warnanya lebih tajem lagi…”

”Tapi lebih mudah diinget kalo digambar, kan? Lebih ada kesannya. Dan sulit ilang dari otak, kan?” katanya, menadadak sewot. Aku hanya diam menatapnya.

”Sori. Kadang aku emang agak kacau,” katanya sambil menenggelamkan wajahnya sendiri ke dalam sketch book putih miliknya.

”Ngga papa, kok. Udah selesai? Liat hasilnya, dong!” kataku sambil mengambil sketch book di pelukannya. Hasilnya jangan ditanya. Hampir sempurna.

”Mungkin ngga sih… aku bisa ngelupain tempat ini? Ngelupain sekolah? Ngelupain semua keluargaku, temen-temen…kejadian-kejadian menyenangkan…menyedihkan…? Mungkin ngga sih?” tanyanya tiba-tiba tanpa menatapku, bahkan menunjukkan wajahnya.

”Segalanya itu mungkin di dunia ini…” jawabku. Aku menatapnya beberapa detik, lalu menambahkan, ”Tapi kalo kejadian atau orang yang penting banget, pasti ngga akan semudah itu dilupain, kan? Walaupun lo lupa, lo pasti rela buang waktu bertahun-tahun buat inget lagi sama orang itu. Sama kejadian yang penting itu. Kan?”

Dia hanya diam. Aku tidak habis fikir, kenapa dia nanya pertanyaan yang aneh? Aku tahu dia sangat pelupa, tapi ngga mungkin pelupanya se-extreme itu, kan? Tanpa terasa, aku harus pergi.

” Gw pergi ya. Ada les.” kataku sambil bangkit dan pergi.

Aku yang dulu tidak menyadari bahwa dia menangis di tengah hujan sambil memeluk sketch book putih kesayangannya itu…

Di Hari Kemerdekaan RI, aku mendapat kabar bahwa dia pindah sekolah. Ada yang mengatakan bahwa dia pindah ke luar negeri. Ada yang mengatakan bahwa dia di-drop out dari sekolah. Dan masih banyak gosip lainnya. Yang aku sesali, dia hanya mengirimi aku pesan singkat yang sangat pendek.

”Tolong jaga Ruang Hujanku, atau kamu boleh bilang Ruang Hujan kita. Fatha.”

13 Oktober. Dua bulan setelah Fatha menghilang. Seperti biasa, aku duduk di bawah pohon di dekat lapangan basket—atau yang biasa disebut Ruang Hujan oleh Fatha. Aku duduk sambil memain-mainkan bola basket kesayanganku untuk yang kesekian kalinya. Aku menutup mataku dan mencoba mendengarkan desauan angin sore. Namun, yang kudengar adalah suara langkah kaki yang membuatku membuka mata. Aku tidak bisa percaya mataku sendiri. Fatha berdiri sekitar sepuluh meter di depanku.

”Fatha?” ujarku pelan.

Ha! Mungkin mataku memang tidak bisa dipercaya. Tapi telingaku lebih tidak bisa dipercaya lagi saat dia menjawab, ”Kamu siapa?”

Malam harinya, aku menerima e-mail dari alamat yang tidak kukenal. Saat kubaca, ternyata pengirimnya Fatha. Terngiang lagi dua kata yang terdengar dari mulutnya tadi siang, ”Kamu saipa?” Kuberanikan diri untuk membaca suratnya.

” Dika, kan? Ini Fatha, anak yang super pelupa. Masih inget, kan? Harus inget! Jangan kaya’ aku yang bisa-bisanya lupa sama kamu. Hahas… Tadi siang yang duduk di bawah pohon Dika, kan? Maaf, tadi siang aku lupa. Maklum, ya. aku memang pikun. Jangan sakit hati! Aku ngga maksud pura-pura ngga kenal atau apa! Serius! Kalo aku inget itu siapa, pasti aku udah nyapa dan ngajak ngobrol. Sekali lagi jangan sakit hati, yah!!…

Aku kecewa membacanya.” Lupa? Memangnya dia sepikun itu?” pikirku. Aku meneruskan membaca e-mail­ itu.

“…Ng… tadinya aku ngga mau ngasih tau. Tapi, kalo kejadiannya seperti tadi siang, aku harus ngasih tau. Daripada salah paham kaya’ tadi. Aku sih udah siap mental ngasih taunya (hihihi… kaya’ mau ngasih tau apa aja, ya?) Jangan kaget, ya!

”Kamu calon dokter kan? Pernah denger kata Alzheimer? Harus pernah! Soalnya salah satu penderitanya sedang berusaha keras menulis e-mail untuk kamu. Haha…”

”…Makanya, untuk menghindari kesalahpahaman kaya’ tadi, di lain kesempatan, kalo kita bertemu lagi, JANGAN menyapa aku. Ditegaskan sekali lagi, jangan menyapa! Aku yakin, anak seperti kamu ngerti alesannya. Jangan balas e-mail ini! Jangan coba-coba menghubungi rumah, handphone-ku atau alat komunikasi apapun! Soalnya, aku pasti lupa cara membalas atau lupa siapa pengirimnya. Hahaha… pikun sekali, ya? Tapi inilah aku yang sekarang. Lebih pelupa dari aku ynag dulu. Kamu benar. Walaupun aku lupa, aku pasti rela buang waktu bertahun-tahun buat inget lagi sama kamu. Sama moment yang penting, sama kamu…

”Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Maaf, dulu aku menghilang tanpa pamit. Maaf aku ngga bisa pamitan secara langsung sekarang. Maaf, aku dulu hadir di hidup kamu, tapi sekarang aku harus pergi. Ou Revoir! Selamat tinggal!”

Aku masih tidak mengerti! Jadi apa maksudnya? Kita putus silaturahmi? Kenapa? Terus kenapa dia lupa sama aku? Sebenernya apa yang terjadi, sih? Aku menuliskan balasan yang intinya meminta penjelasan. Sehari, aku menunggu balasan. Dua hari. Tiga hari, empat hari, lima hari. Sekarang, 2 minggu telah berlalu. Aku sedang duduk diam di sebuah kafe internet di depan sekolahku. Aku teringat tentang Alzheimer. Sampai sekarang, aku belum tahu apa itu Alzheimer. Perlahan, aku membuka Google dan mencari pengertian Alzheimer. Aku menunggu hasilnya.

Aku melihat gambar lingkaran di kanan atas tab, pertanda hasil pencariannya sudah ada. Aku baca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat… sampai aku tertegun saat membaca kalimat yang berbunyi:

Alzheimer adalah penyakit otak yang bisa menyebabkan Dementia (kemunduran sistem fungsi intelektual, terutama memori, walaupun fungsi otak yang lain (seperti fungsi keseimbangan dan panca indera) tetap berjalan seperti biasa. Metode penyembuhan penyakit ini masih belum ditemukan dan tetap diteliti oleh para ahli. Para…

Aku hanya bisa duduk terdiam dan tersenyum pahit. Sekuat tenaga kutahan air mataku. Aku mengetikkan e-mail untuk fatha yang isinya:

”Selamat tinggal…aku sayang kamu…”

Aku mengirim e-mail itu, walaupun aku tahu aku tidak akan mendapatkan jawaban. Bahkan, aku ragu e-mail ini akan dibaca olehnya..

13 Desember petang, aku dikejutkan oleh kiriman paket dan surat dari alamat yang tidak kukenal. Saat kubuka, aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Mendadak, duniaku hening. Isi paket itu scetch book asli milik Fatha.. Jujur, aku agak menyesali kedatangan paket itu. Kenapa benda ini datang saat aku mulai bisa melupakan Fatha? Kubaca surat yang menyertai paket itu

Halo Dika! Kalau surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Ya, aku sudah meninggal. Jangan takut! Surat ini kutulis saat aku masih hidup, kok! Bukan hantuku yang menulis surat ini!

Aku mau menyerahkan scetch book milikku. Ini semua kenanganku yang bisa aku lukis setelah aku divonis menderita Alzheimer. Kenangan yang sangat berharga untukku. Aku mau orang yang berharga juga yang menyimpannya. Aku ngga tahu kenapa aku memilih kamu, bukan orang tuaku. Aku ngga tahu, dan jangan tanya aku. hati kecilku berkata seperti itu, tubuhku hanya mengikuti saja.

Terima kasih, ya, sudah menemaniku di Ruang Hujan setiap sore. Kamu benar-benar mengingatkan aku pada orang yang sangat aku sayangi dulu. Orang yang menemukan Ruang Hujan sebelum aku. Dia sangat menyukai hujan, lebih dariku. Dia juga menyukai basket, sama sepertimu. Tapi, dia sudah pergi, jauh sebelum aku.

Setelah kepergiannya, aku sangat membenci hujan dan tidak mau datang lagi ke ruang hujan. Tapi, saat aku melihat kamu, kamu benar-benar mirip dengannya. Caramu bermain basket, hidungmu, matamu… benar-benar mirip. Aku mulai berani lagi datang ke Ruang Hujan. Karena kamu…

Akhirnya aku sadar. Kamu sangat mirip dengan dia, tentu saja! Dia tak lain dan tak bukan adalah Ditya, kakakmu. Tapi, aku yang waktu itu tidak peduli. Asal bisa mendapatkan penggantinya, aku puas. Maaf, aku memanfaatkanmu. Tapi, lambat laun aku sadar. Kamu berbeda dengannya. Jika dia bisa diibaratkan kakak yang baik, kamu diibaratkan sahabat yang baik. Saat sadar, kamu telah menjadi orang yang sangat penting bagiku.

Tadinya ada banyak hal yang ingin aku tulis. Sangat banyak. Tapi, aku lupa, dan aku sudah capek mengingat lagi. Capek. Intinya, aku minta maaf atas semua kesalahanku dan terima kasih banyak atas perhatian yang kamu berikan. Selamat tinggal!

-Fatha-

Begitu selesai kubaca, aku membuka sketch book itu. Di halaman demi halaman, aku melihat banyak catatan di setiap gambar. Ada nama orang, detil kejadian, perasaannya saat itu, dan catatan-catatan kecil lainnya. Semuanya ditulis dengan tulisan tangan khasnya. Sampai aku tiba di halaman ke-113. Ada sosok diriku sedang duduk sambil memegang bola basket. Ya, itu gambar yang dia buat di ruang hujan waktu itu. Mataku menelusuri kalimat demi kalimat yang tertulis di lembar itu. Gradika Wirnahafian…16 tahun…tinggi 181 cm… kelas XII IPA 3…

Aku terus membaca hingga mataku sampai pada tulisan, Fatha! Kalau penyakit ini sudah parah, jangan lupain orang ini! Kalau kamu lupa, berusaha untuk inget dia lagi! Sampai kamu meninggal, jangan lupain orang ini! Orang ini sangat berharga buatmu, dari dulu hingga sekarang, saat kamu membaca tulisan ini! Kamu sangat sayang padanya! Ingat! Kamu yang dulu sangat sayang padanya dan akan tetap sayang sampai kapanpun!”

Aku termenung membaca kalimat terakhir dan menangis. Nenekku dulu bilang kalau anak laki-laki tidak boleh menangis. Namun, aku berseru dalam hati. ”Ah… lupakan semua itu! Setiap orang sedih butuh menangis!”

Dan aku menangis dalam hening malam…

Setahun kemudian, saat aku mengabadikan kisah ini dalam tulisan nyata. Seperti yang kalian baca sekarang, aku masih belum bisa melupakan Fatha dan kenangan indah di Ruang Hujan, karena untuk melupakan orang yang sangat kau sayangi, kamu tidak perlu membunuh kenangan bersamanya. Dia masih bisa hidup dan berlarian di potongan-potongan kenangan di sudut otak kita yang terbatas ini.

Selamanya…

Gimana? Aneh ya??

Huehuehue… aku kan bukan pengarang profesional… jadi kalo jelek maafkan…

Tapi beda banget ama filmnya lho!! Filmnya mah ttg suami istri yg istrinya kena penyakit alzheimer, jadi sering nemuin mantan pacarnya si istri…

Ini FIKTIF lho…

Cuma aku nyeritain dengan gaya yang rada aneh aja…

Yah… tetep hargain karya aku, ya.. walaupun pasti banyak yang geuleuh…

jangan lupa kasih komen…

1 comment November 29, 2007

hm…

lagi pengen melankoli” dikit…

jangan geuleuh bacanya…

beribu luka dan tawa…

berjuta tnagis dan senyuman…

milyaran kerja keras membawa kita pada suatu tempat bernama SUKABUMI…

berton-ton keringat membawa kita pada satu moment…

…a moment to remember…

seluruh usaha dan konflik yang ada membawa kita pada 1 kata…

...kekalahan…

yupz! that’s rite, man!

kita kalah…

tapi lihatlah…

kita masih bisa tersenyum riang sekarang!!

karena kekalahan adalah guru terbaik…

kekalahan adalah bagian dari perputaran roda kehidupan…

kekalahan bukanlah akhir…

kekalahan adalah awal dari sebuah kemenangan…

kekalahan adalah pil pahit penolong kita…

kekalahan adalah rencana terbaik yang diberikan oleh Yang Maha Merencanakan untuk kita…

kekalahan memiliki makna di baliknya…

kekalahan…

banyak sisi terang dari kata berkonotasi gelap ini…

di balik kekalahan, ada persaudaraaan kita yang semakin erat…

ada pengalaman berharga yang kita dapat…

ada senyum… ada tawa… ada peluk erat…

walaupun pastinya membawa luka…

tapi, kita tidak mungkin berlarut sedih dalam kekalahan, kan?

ayo bangkit!! tegakkan badan kita!!

kita berjuang lebih keras lagi!!!!!

buktikan pada dunia akan keeksisan kita!!!

t’st3x, saneskitunyaheueuh!!!!

..: melankoli seorang pentilers:..

1 comment November 28, 2007

being a blog-author… okeh!!

ini pertama kalinya gw nulis blog…

gw nulis blog ini dengan penuh perasaan bimbang dan dilema karena besok tugas gw numpuk, senumpuk-numpuknya tugas yang pernah didapatkan oleh seorang siswi SMA biasa…

dengan penuh pertimbangan, gw mutusin bwt nyorat-nyoret blog berlatar putih ini…

hm,,,

karena ini pertama kalinya, gw belum mengotak-atik layout yang enak dan belum begitu terbiasa ama segala tetek bengek tentang blog ini…

intinya, gw masih gaptek…

dan gw takut kalo blog ini ngga ada yang baca…

siapa yang rela membuang waktunya untuk membaca halaman nista tentang orang yang sangaat ngga jelas??

udah, deh.. mending next topic aja…

judul blog ini: Blackwitch’s Whitediaries

kenapa gw milih nama itu? Pertama, emang gw suka banget sama kata “BLACKWITCH”

ID gw, dari id e-mail,FS, YM, Greenpeace, tickle, dll (baca: dan lupa lagi) semuanya d.blackwitch.

dan kenapa gw suka nama itu?? hmm… mungkin karena gw pernah dibilang auranya aura MISTIS ama solmet gw dulu… tapi, apa perlu alasan untuk menyukai sesuatu? karena suka atau ngga suka itu masalah hati… kalo hati lu bilang YA, ya lakuin aja…

–> masalah hati, tapi hati kudu sejalan ama otak, yah…

dan kata WHITEDIARIES gw pake karena… layoutnya putih!!

==”

tadinya mau warna item, terus namanya jadi Blackwitch’s Blackdiaries

tapi, kesannya jadi suram,, serasa gw itu cewe yang selalu melakukan hal” buruk.. selalu melakukan dosa… selalu melakukan kejahatan…

selalu beraura hitam…

karena ngga mungkin banget gw pake layout PINK, jadi gw milih yang putih deh…

lagian, gw pengen nonjolin kontradiksi HITAM dan PUTIH…

jadi, liat sesuatu dari 2 sisi… liat hitam dan putihnya…

–>> apa sih?? GJ ==”

hhuuu…

pokoknya, Blackwitch’s Whitediaries berisi KEBODOHAN, KEKONYOLAN, ungkapan EMOSI, BUAH PIKIRAN, dan …

lihat saja kelanjutannya!!!

MAU??

5 comments November 26, 2007

  • Archives

  •  

    November 2007
    M T W T F S S
        Dec »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Recent Comments

    aroen kwok on Andri Wongso, seorang mot…
    dblackwitch on Japan.. Japan.. Japan…?…
    bumihadiwibowo on Merpati tak Mau Terbang L…
    dblackwitch on Merpati tak Mau Terbang L…
    dblackwitch on Mengejar matahari?
  •